Harapanku Setelah Memasuki Usia 45 Tahun

Ahok.Org – Sejak menit pertama hari ini (jam 00 tengah malam) Rabu (29/6) anak-anak aku dan istri membangunkan tidurku dan anak-anak (Nicho,Thania serta Daud) berpakaian “perang” lengkap dengan senjata laras panjang “NERF” menodongkan senjatanya ke arah saya dan istri keluar dengan membawa kue martabak lengkap dengan lilin sambil bernyanyi happy birthday.

Saya bersyukur pada Tuhan diberi kepercayaan bukan hanya berumur 45 thn (paroh baya),tetapi juga dikarunia keluarga yang takut akan Tuhan dan teman-teman yang sangat memperhatikan aku,baik rekan-rekan yang berjuang bersama untuk melihat Indonesia memiliki pejabat-pejabat publik yang Bersih Transparan Profesional, juga teman-teman yang dari pagi hari sudah menyempatkan waktu mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada saya disertai doa melalui sms,bbm, FB, twittter, email dan telepon.

Pagi hari yang aku lakukan adalah menelepon mama yang melahirkan saya 45 thn yang lalu, kami ngobrol dan bercerita betapa Tuhan mengasihi kami sekeluarga dan mempercayai kepada kami tugas jabatan menjadi pejabat negara yang bekerja memperjuangkan hak-hak rakyat, yang bertugas mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat bukan bantuan sosial karena belas kasihan pejabat. Mama juga berkata tidak mudah kalau kita sekeluarga dipercaya menjalankan tugas ini, seluruh keluarga terdiri  anak, istri , mama dan saudara harus belajar bersikap ,bertingkah laku dan berpikir sesuai tugas sebagai pejabat yang memperhatikan hak-hak rakyat banyak, terutama yatim piatu dan fakir miskin yang jelas-jelas telah diamanatkan di UUD 1945 menjadi tanggung jawab pemerintah untuk  memeliharanya.

Hari juga kita peringati sebagai hari keluarga nasional. Selamat bagi seluruh bangsa indonesia untuk merayakan hari keluarga nasional,semoga semakin banyak keluarga-keluarga yang sejahtera sehingga bisa bisa menikmati buah dari kemerdekaan di negeri ini.

Buat saudara-saudara muslim yang hari ini merayakan Isra Miraj perjalanan Nabi muhammad SAW jatuh pada hari ini juga saya ucapkan selamat memperingatinya,(ketika masih menjabat bupati di belitung timur  ada beberapa mesjid yang mengundang saya hadir di tengah-tengah jamaah guna memperingati dan mendengarkan khotbah (tausiah), walau ada beberapa mesjid yang menolak saya masuk karena dianggap “kafir”.saya bersyukur banyak rekan-rekan dan guru-guru  agama Islam  yang berkata bawah saya-lah contoh pemimpin Islam yang disyaratkan oleh nabi Muhammad (jujur, cerdas,amanah dan adil).

walaupun belum mendapat hidayah sebagai seorang muslim, karena itu beliau-beliau suka mengundang saya dan berdoa agar saya mendapatkan hidayahNya. Alangkah indahnya negeri kita  Indonesia  jika kita berbeda keyakinan dan solusinya dengan diwujudkan dalam bentuk doa kepada Allah agar memberikan kepada orang lain yang beda keyakinan dengan kita sebuah hidayah,bukan dengan menghasut rakyat membenci bahkan menghalanginya beribadah.

Saya percaya di Belitung Timur yang 93% muslim telah membuktikan mayoritas (63% memilih saya sewaktu mencalonkan diri menjadi gubernur Babel tahun 2007),bahwa beliau-beliau berdoa untuk saya dan percaya negeri yang mayoritas muslim akan lebih maju jika dipimpin orang yang memenuhi syarat kepemimpinan yang disebutkan oleh Nabi Muhammad, sekalipun dia “kafir”, dari pd dipimpin oleh orang yang “non kafir” tetapi kelakuannya kafir karena tidak memenuhi syarat nabi, negeri ini terpuruk karena lebih banyak pejabat yg tidak jujur/korup, tidak amanah (banyak yang curang untuk menangkan jabatan dalam pemilu), tidak cerdas (mengira dia cerdas), dan tidak adil (semua hanya untuk sejahterakan keluarganya saja).

Hari ini anak-anakku Nicho dan Thania akan pulang kampung ke negeri laskar pelangi, sibungsu Daud akan menyusul hari jumat, saya tidak bisa menemani di masa liburan,kami di DPR belum reses,dan ada beberapa pertemuan saya sebagai narasumbernya juga ada acara di TVRI. Dan tadi susah mendapatkan kabar dari forum Buruh meminta saya  besok pagi jam 10 menjadi saksi di MK , bahwa SJSN (sistem jaminan sosial nasional) penting diwujudkan di negeri ini, bukan dengan jamkesmas yang berbasis uang APBD di Dinas Kesehatan, sudah terlalu banyak rakyat harus jatuh miskin karena Jamkesmas tidak mau bayar penuh (bahkan ada kabar harus lewat calo kalau mau dapat fasilitas jamkesmasnya seperti di jakarta) ,dan harus beli obat sendiri di apotik ,belum lagi alasan jatah Jamkesmas habis sementara ada contoh kasus: Malinda dee penipu yang mantan pegawai citibank, operasi payudara silikonnya bisa ditanggung penuh jamkesmas, sementara diwaktu yang sama warga kemanggisan jakarta (gadis umur 17 thn) yang harus amputasi kaki karena kanker tulang harus membayar Rp 7 juta baru bisa diamputasi, setelah kami datang ke RS, akhirnya setuju bayar Rp 4 jt, padahal ibunya hanya seorang buruh cuci baju dengan penghasilan Rp.500 ribu/bln, dan ayahnya pemulung, Bagaimanapun mereka susah  mencari pinjaman hanya Rp.2,5jt. Belum lagi bayar hutangnya nanti. Bagaimana kalau tidak bertemu kami yang bisa bantu bayarkan? Apakah setiap kali rakyat yang kurang beruntung ini ahrus mendpatkan belas kasihan dan bantuan  pejabat yang dia kenal atau kebetulan ketemu? Sungguh tidak benar pejabat  negeri ini kalau rakyat mendapatkan haknya karena bantuan sosial orang lain bukan karena keadilan sosial sesuai sila ke-5 pancasila.

Sekali lagi saya mau berterima kasih buat teman-teman yang mendukung saya dengan doa dan bekerja bersama mewujudkan keadilan sosial dimulai dengan sistem jaminan sosial nasional (meliputi,kesehatan, pensiun, hari tua, kecelakaan kerja,dan kematian) dan diperluas dengan jaminan pendidikan dan perumahan juga modal kerja bagi usaha mikro kecil menengah di seluruh indonesia.

Semoga di usia saya yang sudah paroh baya (45 thn) saya bisa terus konsisten berjuang bersama,dan akan banyak rekan-rekan se-Indonesia yg lebih muda bisa lebih BTP untuk lawan bersama ketidakadilan agar negeri ini tidak dikuasai oleh para pejabat yang kerasukan roh kolonialisme penjajah atas bangsa sendiri, percayalah sudah sejauh ini kita berjuang melawan. Dan percayalah  di Indonesia, di seluruh institusi pemerintah dan aparat hukum juga pengadilan (legislatif,eksekutif,yudikatif) se-Indonesia, masih ada ratusan ribu bahkan mungkin jutaan  yang ingin melawan agar keadilan sosial benar-benar terwujud bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan status sosial ,suku,agama ,ras dan antar golongan.

Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati rakyat Indonesia. Amin.

Jakarta, rabu, Jun 29, 2011

BTP

Testimoni Ahok, Bagaimana Modus Wakil Rakyat Tilap Uang Kunker ke Maroko, Rekreasi ke Spanyol

Ahok.Org (02/03) – Anggota DPR dari Partai Golkar Basuki Tjahaja Purnama menelanjangi rekannya di parlemen yang melakukan korupsi. Melalui laporan kinerja bertajuk Satu Tahun Ber-DPR, Ahok –begitu dia akrab disapa– mengungkap banyak fakta menarik tentang tingkah polah para wakil rakyat di Senayan.

Dalam laporan itu, Ahok menceritakan pengalaman kunkernya ke Maroko pada akhir September 2010. Dia ikut sebagai anggota delegasi Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR dan Parlemen Maroko. Kunjungan tersebut menjadi pengalaman pertamanya menggunakan paspor dinas berwarna biru.

’’Yang membuat saya gundah, rupanya dalam perjalanan itu juga ada acara ke Spanyol,’’ ungkap Ahok di Hotel Santika, Slipi, Jakarta Selatan, kemarin (28/2). Dia merasa perjalanan ke Spanyol tersebut bukan lagi bagian dari agenda kerja sama bilateral. ’’Toh, terdapat tim lain yang berangkat ke sana,’’ ujar pria kelahiran Belitung Timur, 29 Juni 1966, itu.

Turut hadir peneliti senior CSIS J. Kristiadi, Koordinator Formappi Sebastian Salang, Koordinator ICW Danang Widoyoko, serta pengamat politik dan kebijakan publik UI Andrinof Chaniago.

Tim yang terdiri atas enam anggota DPR tersebut akhirnya berangkat pada 24 September 2010. Menurut Ahok, semua acara seharusnya sudah selesai pada 27 September sore. Artinya, mereka bisa kembali ke Indonesia keesokannya. Tetapi, anggota rombongan yang lain nekat ingin ke Spanyol.

’’Dalam jadwal acara tidak ditulis ke Spanyol. Cuma sampai 29 September, dibuat seolah-olah masih di Maroko kegiatannya dan ditulis pukul 13.20 berangkat dari Casablanca (lokasi bandara internasional Maroko, Red) menuju Jakarta,’’ jelas Ahok.

Yang keterlaluan, lanjut dia, para anggota rombongan yang pelesiran ke Spanyol tersebut tetap menerima tambahan uang saku perjalanan. Di Maroko setiap anggota dihitung USD 200/hari, termasuk hotel. Untuk Spanyol, jatahnya menjadi dua kali lipat, yakni USD 400/hari.

Ahok memutuskan untuk tetap pulang ke tanah air pada 28 September. Meski di Maroko selama lima hari, dia hanya mau menerima uang saku selama empat hari. ’’Perdiem saya di Maroko, setelah dipotong ini itu adalah USD 685,’’ katanya. Bila dihitung USD 1 sama dengan Rp 9.000, USD 685 adalah sekitar Rp 6.165.000.

Sebelumnya, dia malah ditawari menerima uang saku penuh selama tujuh hari, meski tidak ikut jalan-jalan ke Spanyol. ’’Tentu saya menolak hal itu dan meminta apa yang menjadi hak saya saja,’’ ungkap mantan bupati Belitung Timur (periode 2005–2010) tersebut.
Selaku anggota komisi II, agenda kunker pertamanya adalah ke Palu, Sulawesi Tengah. Seperti biasa, seluruh anggota rombongan mendapatkan biaya sistem lumpsum yang diatur staf sekretariat. Mulai uang tiket, uang saku, uang hotel, hingga uang transportasi dihitung dengan standar tertinggi dan termahal di kota yang akan dikunjungi.

Beberapa hari menjelang keberangkatan, cerita Ahok, staf komisi memberikan alternatif antara dibelikan tiket pesawat kelas eksekutif atau ekonomi. ’’Karena berpikir semua untuk penghematan dan kesetiakawanan, saya ikut ekonomi. Ternyata saya malah diberi selisih sisa uang dari tiket untuk eksekutif yang dibelikan untuk ekonomi,’’ kata pemilik nama Tinghoa Zhong Wan Xie tersebut lantas tersenyum.

Ahok menyatakan tidak tenang karena merasa ada etika yang dilanggar. Dari sisi penghematan uang negara, dia setuju kalau perjalanan dinas anggota dewan sebaiknya menggunakan tiket pesawat ekonomi. Tetapi, ketika uang yang dianggarkan tetap berstandar kelas eksekutif dan selisih uang tiketnya masih dikembalikan kepada anggota, justru tidak ada penghematan uang rakyat.

’’Justru anggota dewan yang untung karena mendapatkan penghasilan tambahan. Apakah ini dilaporkan dalam SPT (surat pemberitahuan) pajak?’’ katanya. Dalam kunjungan ke Palu itu, imbuh Ahok, bupati setempat juga ingin membayar uang penginapan. ’’Saya menolak ini dan sempat membuat suasana menjadi tidak nyaman,’’ tuturnya.

Selama setahun di DPR, Ahok mengatakan melihat banyak contoh konkret tentang permainan dalam penggunaan anggaran negara. Mulai permainan jumlah hari perjalanan dan rapat, perubahan tiket perjalanan, adanya dana taktis dalam berbagai kunjungan, hingga pemberian honorarium maupun pembiayaan pembahasan RUU yang sering tidak transparan.

Ditambah lagi, lanjut dia, pengambilan ’’kelebihan’’ uang reses, peningkatan uang kunjungan secara diam-diam, dan tidak jelasnya potongan pajak penghasilan DPR. ’’Memang ini tidak bermasalah dari sisi legalitas. Tetapi, secara etika sangat patut dipertanyakan karena penghambur-hamburan uang rakyat,’’ katanya.

Menurut Ahok, kalau anggota dewan saja sudah terbiasa menilap uang kecil, fungsi pengawasan terhadap kementerian pasti kedodoran. ’’Otomatis prinsipnya kamu ambil punya kamu, saya ambil punya saya,’’ sindir Ahok. Selain mengingatkan langsung, Ahok sudah melaporkan hal itu ke Badan Kehormatan (BK) DPR. Namun, belum ada tindak lanjutnya sampai sekarang.

Ahok menambahkan, praktik ’’bagi-bagi uang’’ juga lazim terjadi di komisi. Tetapi, Ahok menyatakan belum pernah menemukannya secara langsung. ’’Mungkin karena tahu saya begini, saya nggak pernah ditawari. Perjalanan saja nggak mau nilep, apalagi bagi-bagi begitu,’’ katanya lantas terkekeh. [Radar Jogja]

Siapa Ahok?

Nama : Ir Basuki Tjahaja Purnama, MM
Tempat lahir : Manggar, Belitung Timur
Tanggal lahir : 29 Juni 1966
Agama : Kristen Protestan
Nama Istri : Veronica, ST
Nama anak pertama : Nicholas
Nama anak kedua : Nathania
Nama anak ketiga : Daud Albeenner
Nama bapak : Indra Tjahaja Purnama (Alm)
Nama ibu : Buniarti Ningsih

PERJALANAN AWAL

Basuki T Purnama  (BTP) yang akrab dipanggil Ahok lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, Belitung Timur.

Ia melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMU) dan perguruan tinggi di Jakarta dengan memilih Fakultas Teknologi Mineral jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti.

Setelah menamatkan pendidikannya dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi (Insiyur geologi) pada tahun 1989, Basuki pulang kampung–menetap di Belitung dan mendirikan perusahaan CV Panda yang bergerak dibidang kontraktor pertambangan PT Timah.

Menggeluti dunia kontraktor selama dua tahun, Basuki menyadari betul hal ini tidak akan mampu mewujudkan visi pembangunan yang ia miliki, karena untuk menjadi pengelolah mineral selain diperlukan modal (investor) juga dibutuhkan manajemen yang profesional.

Untuk itu Basuki memutuskan kuliah S-2 dan mengambil bidang manajemen keuangan di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya Jakarta. Mendapat gelar Master in Bussiness Administrasi (MBA) atau Magister Manajemen (MM) membawa Basuki diterima kerja di PT Simaxindo Primadaya di Jakarta, yaitu perusahaan yang bergerak dibidang kontraktor pembangunan pembangkit listrik sebagai staf direksi bidang analisa biaya dan keuangan proyek. Karena ingin konsentrasi pekerjaan di Belitung, pada tahun 1995 Basuki memutuskan untuk berhenti bekerja dan pulang ke kampung halamannya.

Perlu diketahui, tahun 1992 Basuki mendirikan PT Nurindra Ekapersada sebagai persiapan membangun pabrik Gravel Pack Sand (GPS) pada tahun 1995. Bagi Basuki, pabrik yang berlokasi di Dusun Burung Mandi, Desa mengkubang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur ini diharapkan dapat menjadi proyek percontohan bagaimana mensejahterakan stakeholder (pemegang saham, karyawan, dan rakyat) dan juga diharapkan dapat memberikan konstribusi bagi Pendapatan Asli Daerah Belitung Timur dengan memberdayakan sumber daya mineral yang terbatas. Di sisi lain diyakini PT Nurindra Ekapersada memikili visi untuk menghasilkan sumber daya manusia yang tangguh.

Berangkat dari visi seperti itulah pada tahun 1994, Basuki didukung oleh seorang tokoh pejuang kemerdekaan Bapak alm Wasidewo untuk memulai pembangunan pabrik pengolahan pasir kwarsa pertama di Pulau Belitung dengan memamfaatkan teknologi Amerika dan Jerman. Pembangunan pabrik ini diharapkan juga memberikan harapan besar menjadi cikal bakal tumbuhnya suatu kawasan industri dan pelabuhan samudra dengan nama KIAK (Kawasan Industri Air Kelik).

KIPRAH POLITIK

Sebagai pengusaha di tahun 1995 ia mengalami sendiri pahitnya berhadapan dengan  politik dan birokrasi yang korup. Pabriknya ditutup karena ia melawan kesewenang-wenangan pejabat. Sempat terpikir olehnya untuk hijrah dari Indonesia ke luar negeri, tetapi keinginan itu ditolak oleh sang ayah yang mengatakan bahwa satu hari rakyat akan memilih Ahok untuk memperjuangkan nasib mereka.

Dikenal sebagai keluarga yang dermawan di kampungnya, sang ayah yang dikenal dengan nama Kim Nam, memberikan ilustrasi kepada Ahok. Jika seseorang ingin membagikan uang 1 milyar kepada rakyat masing-masing 500 ribu rupiah, ini hanya akan cukup dibagi untuk  2000 orang. Tetapi jika uang tersebut digunakan untuk berpolitik, bayangkan jumlah uang di APBD yang bisa dikuasai untuk kepentingan rakyat. APBD kabupaten Belitung Timur saja mencapai 200 milyar di tahun 2005.

Bermodal keyakinan bahwa orang miskin jangan lawan orang kaya dan orang kaya jangan lawan pejabat (Kong Hu Cu), keinginan untuk membantu rakyat kecil di kampungnya, dan juga kefrustasian yang mendalam terhadap kesemena-menaan pejabat yang ia alami sendiri, Ahok memutuskan untuk masuk ke politik di tahun 2003.

Pertama-tama ia bergabung dibawah bendera Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) yang saat itu dipimpin oleh Dr. Sjahrir. Pada pemilu 2004 ia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Dengan keuangan yang sangat terbatas dan model kampanye yang lain dari yang lain, yaitu menolak memberikan uang kepada rakyat,  ia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009.

Selama di DPRD ia berhasil menunjukan integritasnya dengan menolak ikut dalam praktik KKN, menolak mengambil uang SPPD fiktif, dan menjadi dikenal masyarakat karena ia satu-satunya anggota DPRD yang berani secara langsung dan sering bertemu dengan masyarakat untuk mendengar keluhan mereka sementara anggota DPRD lain lebih sering “mangkir”.

Setelah 7 bulan menjadi DPRD, muncul banyak dukungan dari rakyat yang mendorong Ahok menjadi bupati. Maju sebagai calon Bupati Belitung Timur di tahun 2005, Ahok mempertahankan cara kampanyenya, yaitu dengan mengajar dan melayani langsung rakyat dengan memberikan nomor telfon genggamnya yang juga adalah nomor yang dipakai untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Dengan cara ini ia mampu mengerti dan merasakan langsung situasi dan kebutuhan rakyat. Dengan cara kampanye yang tidak “tradisional” ini, yaitu tanpa politik uang, ia secara mengejutkan berhasil mengantongi suara 37,13 persen dan menjadi Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Padahal Belitung Timur dikenal sebagai daerah basis Masyumi, yang juga adalah kampung dari Yusril Ihza Mahendra.

Bermodalkan pengalamannya sebagai pengusaha dan juga anggota DPRD yang mengerti betul sistem keuangan dan budaya birokrasi yang ada, dalam waktu singkat sebagai Bupati ia mampu melaksanakan pelayanan kesehatan gratis, sekolah gratis sampai tingkat SMA, pengaspalan jalan sampai ke pelosok-pelosok daerah, dan perbaikan pelayanan publik lainya. Prinsipnya sederhana: jika kepala lurus, bawahan tidak berani tidak lurus. Selama menjadi bupati ia dikenal sebagai sosok yang anti sogokan baik di kalangan lawan politik, pengusaha, maupun rakyat kecil. Ia memotong semua biaya pembangunan yang melibatkan kontraktor sampai 20 persen.  Dengan demikian ia memiliki banyak kelebihan anggaran untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.

Kesuksesan ini terdengar ke seluruh Bangka Belitung dan mulailah muncul suara-suara untuk mendorong Ahok maju sebagai Gubernur di tahun 2007. Kesuksesannya di Belitung Timur tercermin dalam pemilihan Gubernur Babel ketika 63 persen pemilih di Belitung Timur memilih Ahok. Namun sayang, karena banyaknya manipulasi dalam proses pemungutan dan penghitungan suara, ia gagal menjadi Gubernur Babel.

Dalam pemilu legislative 2009 ia maju sebagai caleg dari Golkar. Meski awalnya ditempatkan pada nomor urut keempat dalam daftar caleg (padahal di Babel hanya tersedia 3 kursi), ia berhasil mendapatkan suara terbanyak dan memperoleh kursi DPR berkat perubahan sistem pembagian kursi dari nomor urut menjadi suara terbanyak.

Selama di DPR, ia duduk di komisi II. Ia dikenal oleh kawan dan lawan sebagai figur yang apa adanya, vokal, dan mudah diakses oleh masyarakat banyak. Lewat kiprahnya di DPR ia menciptakan standard baru bagi anggota-anggota DPR lain dalam anti-korupsi, transparansi dan profesionalisme. Ia bisa dikatakan sebagai pioner dalam pelaporan aktivitas kerja DPR baik dalam proses pembahasan undang-undang maupun dalam berbagai kunjungan kerja. Semua laporan bisa diakses melalui websitenya. Sementara itu, staf ahlinya bukan hanya sekedar bekerja menyediakan materi undang-undang tetapi juga secara aktif mengumpulkan informasi dan mengadvokasi kebutuhan masyarakat. Saat ini, salah satu hal fundamental yang ia sedang perjuangkan adalah bagaimana memperbaiki sistem rekrutmen kandidat kepala daerah untuk mencegah koruptor masuk dalam persaingan pemilukada dan membuka peluang bagi individu-individu idealis untuk masuk merebut kepemimpinan di daerah.

Ahok berkeyakinan bahwa perubahan di Indonesia bergantung pada apakah individu-individu idealis berani masuk ke politik dan ketika di dalam berani mempertahankan integritasnya. Baginya, di alam demokrasi, yang baik dan yang jahat memiliki peluang yang sama untuk merebut kepemimpinan politik. Jika individu-individu idealis tidak berani masuk, tidak aneh kalau sampai hari ini politik dan birokrasi Indonesia masih sangat korup. Oleh karena itu ia berharap model berpolitik yang ia sudah jalankan bisa dijadikan contoh oleh rekan-rekan idealis lain untuk masuk dan berjuang dalam politik.  Sampai hari ini ia masih terus berkeliling bertemu dengan masyarakat untuk menyampaikan pesan ini dan pentingnya memiliki pemimpin yang bersih, transparan, dan profesional.

Di tahun 2006, Ahok dinobatkan oleh Majalah TEMPO sebagai salah satu dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia. Di tahun 2007 ia dinobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari penyelenggara negara oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri dari KADIN, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Masyarakat Transparansi Indonesia. Melihat kiprahnya, kita bisa mengatakan bahwa berpolitik ala Ahok adalah berpolitik atas dasar nilai pelayanan, ketulusan, kejujuran, dan pengorbanan; bukan politik instan yang sarat pencitraan.

Hubungi Saya

E-Mail : btp@ahok.org

No HP : 0811 944 728

Ahok Siap Jadi Gubernur DKI

Ahok.Org – Meski keturunan Tionghoa, namun hal itu tak menyurutkan Basuki Tjahya Purnama ayau Ahok untuk mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta.

“Saya di tentang oleh temen saya untuk mencalonkan jadi gubernur DKI Jakarta. Gila lo, kan elo keturunan Tionghoa, bisa dibunuh lo. Tapi tak menyurutkan niat saya,” kata Ahok, anggota DPR RI komisi II di acara dialog the Indonesian Dream:  Namun jika gagal maka ia akan maju melalui calon independen.

Jalur Independen ini dipilhnya karena calon yang 100 persen populer namun elektabilitasnya hanya 10 persen di yakini tidak akan memenangkan pilkada.

“Saya sedang mempersiapkan 500.000 KTP untuk maju lewat jalur Independen. SAya juga meminta dukungan 20.000 warga DKI Jakarta untuk setiap orang menyumbang 20.000. Saya kan ingin mengubah nasib warga Jakarta. tandasnya.

Lebih Lanjut Ahok menjelaskan, ia yakin dapat dipilih masyarakat DKI Jakarta karena ia Profesional dan Bersih. Karena ia tidak harus mengeluarkan uang ratusan miliar.

Ia memprediksi dana untuk ikut pilkada DKI jakarta sebesar 10 miliar. Jika ada calon yang mengeluarkan dana hingga ratusan miliar karena mereka harus membayar suara. Per orang  itu Rp.200.000.

“Pejabat  itu harus terbuka dan transparan. Kalau tidak terbuka dan Transparan berarti ada apa-apanya. Pejabat juga harus dekat dengan masyarakat, karena itu telepon harus 24 jam untuk warga,” paparnya.

Ahok menyatakan bahwa bila ia terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta maka ia akan menjadikan DKI sebagai kota percontohan Jaminan Sosial Nasional. Dengan begitu tidak ada lagi warga DKI yang kelaparan dan tinggal di rumah tidak layak huni.[WartaKota 5/7]

Amdal Kapal Isap Timah di Bangka Tidak Jelas

Ahok.Org – Analisa mengenai dampak lingkungan (amdal) terkait pengoperasian kapal isap pasir timah di pesisir Pulau Bangka tidak jelas. Badan Lingkungan Hidup Daerah Bangka Belitung hanya pernah mengeluarkan dua penilaian. Padahal, sudah puluhan kapal isap beroperasi di pesisir Pulau Bangka.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Bangka Belitung Amrullah Harun mengatakan, amdal harus dikeluarkan tim penilai berlisensi. Tim penilai amdal Provinsi Babel baru mendapat lisensi tahun 2009. ”Amdal hanya bisa dikeluarkan tim penilai berlisensi Kementerian Lingkungan Hidup. Jadi, kami menghitung amdal yang dikeluarkan berdasarkan waktu lisensi mulai didapat,” ujarnya di Pangkal Pinang, Senin (18/7).

Tim penilai Babel menangani wilayah Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan, dan Belitung Timur. Lima kabupaten itu belum punya tim amdal berlisensi. Tim penilai amdal juga hanya pernah mengeluarkan amdal untuk PT Bangka Serumpun dan PT Bangka Prima Tin. Keduanya mengusulkan amdal untuk wilayah operasi Bangka Selatan. ”Saya tidak tahu amdal untuk kapal isap lain,” ujarnya.

Padahal, puluhan kapal isap diketahui beroperasi di perairan Bangka. Di Pantai Penganak, Bangka Barat, diketahui ada 21 kapal. Di pesisir timur Kabupaten Bangka 17 kapal isap. Sementara data di Kantor Imigrasi Pangkal Pinang menunjukkan ada pengajuan izin pekerja asing untuk 67 kapal isap di perairan Bangka (Kompas, 21/5).

Menurut Amrullah, saat ini proses amdal sedang dilakukan. Amdal diajukan PT Timah untuk penambangan laut seluas 30.000 hektar. ”Kalau semua persyaratan terpenuhi, amdal bisa keluar. Setelah itu bisa mengurus izin penambangan,” ujarnya.

Anggota DPRD Bangka Belitung, Siswanto, meminta izin operasi kapal isap di laut Belitung tak dikeluarkan. Warga Belitung tidak ingin kerusakan di pesisir Bangka terjadi di Belitung. ”PT Timah sudah dapat banyak dari Babel. Jangan lagi terus mengeruk Babel. Biarkan laut Pulau Belitung bebas dari kapal isap seperti selama ini,” katanya.

Dia meminta agar Belitung difokuskan sebagai wisata berbasis kelautan. Apalagi, Belitung makin dikenal luas sebagai salah satu tujuan wisata karena keindahan laut dan pantainya.”Semua itu bisa hilang kalau kapal isap beroperasi,” ujarnya.[Kmps]